Category Archives: Pendidikan Matematika

PERANGKAT PEMBELAJARAN ETNOMATEMATIKA CANDI PRAMBANAN

Tidak jarang cerita tentang kebudayaan Indonesia hanya dipelajari dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Padahal budaya juga dapat dipelajari melalui matematika diantaranya objek budaya yang dapat digunakan sebagai bahan ajar pada pembelajaran matematika khususnya materi geometri, yaitu candi Prambanan. Melalui budaya yang ada pada candi Prambanan akan dapat memberikan wawasan pembelajaran berbasis etnomatematika. Hal tersebut menjadikan konsep-konsep matematika yang abstrak dapat dimengerti peserta didik melalui benda-benda konkrit.

Etnomatematika pada Candi Prambanan banyak sekali hal yang unik untuk dikaji, khususnya pada bentuk bangunananya yang banyak mengandung unsur Geometri. Hal-hal yang unik tersebut terlihat dari bagian-bagian dari Candi Prambanan. Yang pertama bentuk Relief dari Candi Prambanan, yang kedua dari prasasi Candi Prambanan, yang ketiga dari stupa Candi Prambanan, yang keempat Arca Roro Jonggrang Candi Prambanan. Bagian-bagian tersebut memiliki potensi dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran matematika yang inovatif dikarenakan Candi Prambanan lekat sekali dengan Masyarakat, dan merupakan pembelajaran yang kontekstual. Didalamnya mengandung berbagai konsep-konsep pembelajaran matematika diataranya adalah pembelajaran transformasi geometri, khusunya pada materi translasi untuk jenjang SMP. Berikut saya lampirkan contoh perangkat pembelajaran (RPP & LKS berbasis etnomatematika Candi Prambanan) semoga dapat bermanfaat.

LKPD_Tri Wahyu Nurjanah_15301241010

RPP_Tri Wahyu Nurjanah_15301241010

Identifikasi Objek Etnomatematika pada Candi Prambanan

 

REFLEKSI PERKULIAHAN ETNOMATEMATIKA (14 MEI 2018)

Oleh : Tri Wahyu Nurjanah

NIM. 15301241010

Pendidikan Matematika A 2015

 

Etnomatematika kali ini kami belajar mengenai bagaimana cara mengelola kelas yang baik, yang di bimbing langsung oleh Prof Marsigit. Pertama dimulai dengan berdoa sebagai ungkapan rasa syukur. Kemudian kelas dibagi dalam kelompok-kelompok. Setengahnya membentuk lingkaran, sedangkan setengahnya yang lain dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota dua sampai empat orang. Dalam kelompok besar, bimbingan langsung di berikan oleh Prof. Marsigit. Kemudian untuk kelompok-kelompok kecil di fasilitasi oleh rekan-rekan S2 dan S3 sebagai supervisor untuk mengelola kelompok kecilnya masing-masing.

Dengan di bersamai Kak Wawan inti dari yang telah kami bahas poin pertama, etnomatematika sebagai sumber belajar sendiri yang harus dikaitkan dengan konsep matematikanya. Sehingga etnomatematika dapat membantu mengembangkan kreatifitas peserta didik. Poin kedua, dalam etnomatematika, yang banyak dibicarakan mengenai bentuk fisik sedangkan yang bentuknya non fisik masih jarang dikaji sehingga lebih dekat ke pembelajaran geometri. Namun dapat juga diterapkan dalam bentuk pemodelan matematika dalam materi perbandingan senilai misalnya susunan pola dalam pakaian batik. Jadi, sebenarnya tergantung dari bagaimana kreatifitas guru sendiri dalam membelajarkannya. Poin ketiga, waktu yang tepat dalam membelajarkan etnomatematika yaitu dari tingkat bawah seperti sekolah dasar dan sekolah menengah pertama itu sangat cocok diterapkan pembelajaran etnomatematika. Poin keempat, dalam mengimplementasikan etnomatematika kita tidak bisa memaksakan budaya itu cocok untuk semua konsep matematika. Karena etnomatematika bermula dari kita tahu terlebih dahulu konsep matematikanya kemudian kita kaitkan dengan budaya yang ada. Sehingga budaya itu tidak bisa dipaksakan harus cocok dengan konsep matematikanya.

Kemudian hasil diskusi masing-masing kelompok dibahas secara bersama. Resume yang dapat diambil ialah untuk membelajarkan etnomatematika kepada siswa, dapat menggunakan miniatur dan lebih baik datang langsung ke lokasi yang menjadi objek budaya. Untuk mengaitkan budaya dengan matematika yaitu yang menjembatani adalah etomatematika, salah satunya bentuk artefak yang bergerak dan tidak bergerak, kaitannya dengan matematika yaitu matematika realistik. Dan etnomatematika berada di dalam matematika realistik itu sendiri. Misal objeknya yaitu susunan batu pada candi, kemudian pada kebudayaan ketoprak salah satunya topi yang digunakan oleh pemain dapat digunakan dalam materi kerucut terpancung. Kemudian ada juga penerapan konsep kesebangunan dari pakaian yang digunakan tokoh ketoprak. Sedemikian sehingga manfaat yang dapat kita peroleh dengan mempelajari etnomatematika yaitu dapat digunakan sebagai sumber motivasi, sumber belajar untuk mencapai tingkat matematika formal dan dapat meningkatkan kreatifitas guru dalam membelajarkan matematika di sekolah.

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA INOVATIF BERBASIS ETNOMATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY

Pembelajaran Matematika tidak jarang membuat peserta didik berinteraksi dengan angka dan simbol yang bersifat abstrak. Hal ini sering mengakibatkan peserta didik kesulitan dalam memahami matematika ditambah lagi dengan motivasi yang kurang dari peserta didik. Maka dari itu, perlu adanya inovasi dalam pembelajaran matematika yang membantu peserta didik dalam memahami matematika. Untuk mengatasi masalah di atas diperlukan suatu pembelajaran yang dapat membantu peserta didik lebih mudah memahami konsep matematika sehingga kemampuan koneksi matematika peserta didik lebih meningkat.

Salah satu perbaikan dalam proses pembelajaran khususnya dalam meningkatkan proses berpikir atau bernalar peserta didik, memecahkan masalah dan berargumen serta komunikasi, pembelajaran berbasis etnomatematika yaitu ilmu yang digunakan untuk memahami bagaimana adaptasi budaya menjadi matematika dapat menjadi solusi alternatif guna proses perbaikan pembelajaran. Jadi, etnomatematika berfungsi untuk mengekspresikan hubungan antara budaya dan matematika.

Etnomatematika adalah salah satu mata kuliah dengan beberapa materi pokok yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Marsigit, MA. untuk meningkatkan kompetensi Mahasiswa Pendidikan Matematika sebagai bekal menjadi calon guru. Tujuan pembelajarannya adalah untuk memfasilitasi Mahasiswa sehingga dapat mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis etnomatematika. Salah satu bentuk upaya memfasilitasi Mahasiswa, Prof. Dr. Marsigit, MA. memberikan tugas untuk melakukan observasi ke berbagai situs cagar budaya seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Keraton Yogyakarta maupun situs budaya yang ada di daerah masing-masing. Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur budaya yang dapat digunakan untuk membelajarkan matematika di Sekolah. Kemudian Mahasiswa diminta untuk membuat perangkat pembelajaran dari hasil observasi tersebut. Setelah itu, Mahasiswa melakukan praktek mengajar menggunakan perangkat pembelajaran yang sudah dibuat.

Selain memfasilitasi Mahasiswa untuk dapat mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis matematika, Prof. Dr. Marsigit, MA. juga memfasilitasi Mahasiswa utuk dapat membuka diri melihat proses pembelajaran di luar negeri melalui berbagai kegiatan lesson study. Selain itu, beliau juga memfasilitasi Mahasiswa untuk mengembangkan dimensi diri melalui artikel-artikel di dalam blog beliau yang sejalan dengan isu-isu dan permasalahan pendidikan matematika saat ini.Beberapa persepsi mahasiswa yang mengikuti kuliah Etnomatematika terhadap pengembangan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika, diantaranya : Mahasiswa merasa memperoleh pengetahuan baru tentang pembelajaran matematika, Mahasiswa merasa lebih mampu memfasilitasi belajar peserta didik yang mempunyai beraneka ragam, Mahasiswa merasa senang karena dapat mengembangkan pembelajaran matematika yang inovatif, Mahasiswa merasa lebih termotivasi untuk mengembangkan berbagai media pembelajaran. Akan tetapi, untuk mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika, memerlukan waktu yang lebih lama dan energi yang lebih banyak.

Berikut ini beberapa link terkait tulisan-tulisan Prof. Dr. Marsigit, MA.

https://uny.academia.edu/MarsigitHrd
https://powermathematics.blogspot.co.id/
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-marsigit-ma