Author Archives: tri wahyu nurjanah

REFLEKSI PERKULIAHAN ETNOMATEMATIKA (SEMESTER 6)

Oleh Tri Wahyu Nurjanah

NIM. 15301241010

Pendidikan Matematika A 2015

Pada semester enam, saya mengikuti sembilan mata kuliah. Salah satu mata kuliah yang wajib saya tempuh dengan bobot 2 sks yaitu etnomatematika. Awalnya saya hanya sekedar mengetahui bahwa belajar etnomatematika itu belajar matematika yang objeknya adalah budaya. Budaya yang menjadi objek tersebut merupakan budaya yang ada pada kehidupan dan keseharian masyarakat. Akan tetapi, bagaimana kita mampu menghubungkan matematika tersebut dengan budaya? Sedangkan keduanya merupakan dua hal dengan dimensi yang berbeda. Matematika itu sesuatu yang abstrak, sedangkan budaya sesuatu yang lekat dengan kehidupan nyata. Pastinya jika kita tidak mempelajarinya dengan baik akan sulit untuk menafsirkannya.

Sebagai gambarannya, matematika murni bersifat abstrak, tidak terbatas, dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Agar dapat dipelajari, khususnya oleh subjek belajar yaitu peserta didik, perlu adanya perantara agar dalam pembelajarannya konsep mudah untuk dipahami. Dengan tertumpu pada indikator keberhasilan subjek belajar dalam memahami suatu ilmu yaitu jika mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, matematika diharapkan dapat diwujudkan dalam pembelajaran yang kontekstual dimana etnomatematika menjadi salah satu yang memfasilitasinya. Sehingga, etnomatematika menjadi salah satu alternatif yang mampu menjembatani dalam membelajarkan matematika.

Selama perkuliahan, dengan di bimbing oleh Prof. Dr. Marsigit, MA. sebagai pakarnya pendidikan matematika dan filsafat. Beliau membuka wawasan murid-muridnya tentang masalah yang berkaitan dengan dunia pendidikan, memberikan kesadaran tentang peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dan mengarahkannya untuk mampu menghayati permasalahan terutama saat pekuliahan sehingga nantinya kita benar-benar mampu melihat, mendalami, dan menghayati budaya yang ada agar dapat menggali konsep matematika yang ada dalam kebudayaan tersebut. Beliau membimbing dan mengajarkan kami untuk memahami etnomatematika dengan gagasan dan ide yang inovatif. Diantaranya beliau memfasilitasi kami untuk belajar melalui dialog secara melingkar, diskusi online, melalui blog interaktif yang beliau tulis yang dapat dengan mudah diakses di www.powermathematics.blogspot.co.id.

Dalam pemberian tugas, beliau juga memberikannya tidak secara monoton. Mahasiswa dimita terlibat secara aktif di dalam forum yang ada pada blog yang beliau tulis di www.powermathematics.blogspot.co.id. Ada sekitar 600 postingan dengan berbagai macam topik dan tema, baik yang bidangnya pendidikan maupun yang bidangnya filsafat. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk berkomentar mengenai isi dari blog yang sudah Beliau tulis tersebut. Beliau terkenal dengan dosen yang tidak pelit ilmu, hal tersebut terbukti dari bagaimana beliau memfasilitasi murid-muridnya untuk belajar. Selain dari blog yang beliau tulis, karya-karya beliau juga dapat dengan mudah diakses melalui http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-marsigit-ma dan https://uny.academia.edu/MarsigitHrd.

Selain terlibat aktif dalam forum blog, Beliau memberikan tugas untuk melakukan observasi ke berbagai situs cagar budaya seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Keraton Yogyakarta maupun situs budaya yang ada di daerah masing-masing. Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur budaya yang dapat digunakan untuk membelajarkan matematika di Sekolah. Kemudian Dari hasil observasi, Mahasiswa diminta untuk membuat perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS berbasis etnomatematika dengan sintak dan materi yang berbeda masing-masing Mahasiswa. Setelah itu, Mahasiswa melakukan praktek mengajar menggunakan perangkat pembelajaran yang sudah dibuat. Saya mendapatkan banyak sekali wawasan baru dari membaca blog yang ditulis oleh Prof. Marsigit. Gagasan-gagasan kritis yang beliau tuangkan dalam tulisannya tersebut membawa pembaca pada sudut pandang baru mengenai pendidikan, ilmu, matematika, maupun filsafat.

Sebelum melakukan studi kasus untuk observasi ke lapangan sesui dengan kelompok masing-masing, kami diberi pembekalan terlebih dahulu oleh Prof. Marsigit, dengan dibersamai oleh mahasiswa S3 yang sedang melakukan penelitian dengan objek sama yang di ketuai oleh Ibu Meita dari Dosen UAD. Setelah penjelasan secara keseluruhan oleh Prof. Marsigit, kemudian penjelasan dari masingmasing kelompok dibersamai oleh Pak Fadlee untuk kelompok Candi Borobudur, Pak Eka untuk kelompok Candi Prambanan, dan Ibu Luluk Mauluah untuk kelompok Keraton Yogyakarta. Harapannya dapat saling berbagi dan lebih siap saat terjun ke lapangan karena sudah dibekali pengetahuan dan pegalaman sehingga saat observasi kami paham objek mana saja yang akan di observasi dan diidentifikasikan unsur-unsur budayanya yang dapat digunakan untuk membelajarkan matematika di Sekolah.

Setelah diperoleh data hasil observasi, hal yang kemudian saya lakukan adalah menyusun perangkat pembelajaran diantaranya RPP dan LKS berdasarkan objek-objek yang sudah diperoleh. Saya mendapat materi geometri untuk kelas IX dengan materi pokoknya translasi. Karena saya masuk ke dalam kelompok Candi Prambanan, Saya memanfaatkan Stupa Candi Brubah dan stupa candi Siwa untuk merancang permasalahan sebagai materi diskusi siswa. Walaupun saya terbiasa dalam merancang perangkat pembelajaran, namun sering kali saya mengalami kesulitan dalam hal menentukan sintak pembelajaran yang cocok dengan materi yang saya akan ajarkan.

Kesulitan yang saya alami, dapat terpecahkan ketika Prof memberikan evaluasi mengenai cara mengembangkan RPP dan LKS yang baik. Prof juga memberikan kami macam-macam sintak pembelajaran yang dapat digunakan dan diterapkan dalam membuat RPP dan LKS yang berbasis etnomatematika. Prof juga memberikan penekanan bahwa untuk menyusun LKS, sintaksnya di sesuaikan dengan sintaks yang digunakan pada RPP.

Simulasi pembelajaran diadakan sebanyak tiga kali, dan tanpa unsur kesengajaan setiap mahasiswa yang ditunjuk dan mendapat giliran maju adalah mahasiswa yang mewakili dari masing-masing kelompok (Prambanan, Keraton, dan Borobudur). Dari simulasi pembelajaran berbasis etnomatematika tersebut, saya belajar kembali mengenai bagaimana cara guru melakukan apersepsi dengan baik, bagaimana batasan apersepsi yang seharusnya, bagaimana cara yang baik untuk mengontrol kelas, menjadi guru yang adil, menyusun dan mengatur tempat duduk siswa saat berdiskusi agar berdiskusi mampu berjalan lancar, dan masih banyak lagi yang lain. Yang pada intinya Prof mengajarkan kami untuk menjadi guru yang mampu inovatif dan tidak biasa-biasa saja, guru yang selalu ditunggu kedatangannya oleh murid-muridnya, guru yang mampu kreatif sehingga mampu membuat matematika menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa agar hasil belajar yang diperoleh dapat optimal.

 

 

 

PERANGKAT PEMBELAJARAN ETNOMATEMATIKA CANDI PRAMBANAN

Tidak jarang cerita tentang kebudayaan Indonesia hanya dipelajari dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Padahal budaya juga dapat dipelajari melalui matematika diantaranya objek budaya yang dapat digunakan sebagai bahan ajar pada pembelajaran matematika khususnya materi geometri, yaitu candi Prambanan. Melalui budaya yang ada pada candi Prambanan akan dapat memberikan wawasan pembelajaran berbasis etnomatematika. Hal tersebut menjadikan konsep-konsep matematika yang abstrak dapat dimengerti peserta didik melalui benda-benda konkrit.

Etnomatematika pada Candi Prambanan banyak sekali hal yang unik untuk dikaji, khususnya pada bentuk bangunananya yang banyak mengandung unsur Geometri. Hal-hal yang unik tersebut terlihat dari bagian-bagian dari Candi Prambanan. Yang pertama bentuk Relief dari Candi Prambanan, yang kedua dari prasasi Candi Prambanan, yang ketiga dari stupa Candi Prambanan, yang keempat Arca Roro Jonggrang Candi Prambanan. Bagian-bagian tersebut memiliki potensi dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran matematika yang inovatif dikarenakan Candi Prambanan lekat sekali dengan Masyarakat, dan merupakan pembelajaran yang kontekstual. Didalamnya mengandung berbagai konsep-konsep pembelajaran matematika diataranya adalah pembelajaran transformasi geometri, khusunya pada materi translasi untuk jenjang SMP. Berikut saya lampirkan contoh perangkat pembelajaran (RPP & LKS berbasis etnomatematika Candi Prambanan) semoga dapat bermanfaat.

LKPD_Tri Wahyu Nurjanah_15301241010

RPP_Tri Wahyu Nurjanah_15301241010

Identifikasi Objek Etnomatematika pada Candi Prambanan

 

REFLEKSI PERKULIAHAN ETNOMATEMATIKA (14 MEI 2018)

Oleh : Tri Wahyu Nurjanah

NIM. 15301241010

Pendidikan Matematika A 2015

 

Etnomatematika kali ini kami belajar mengenai bagaimana cara mengelola kelas yang baik, yang di bimbing langsung oleh Prof Marsigit. Pertama dimulai dengan berdoa sebagai ungkapan rasa syukur. Kemudian kelas dibagi dalam kelompok-kelompok. Setengahnya membentuk lingkaran, sedangkan setengahnya yang lain dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota dua sampai empat orang. Dalam kelompok besar, bimbingan langsung di berikan oleh Prof. Marsigit. Kemudian untuk kelompok-kelompok kecil di fasilitasi oleh rekan-rekan S2 dan S3 sebagai supervisor untuk mengelola kelompok kecilnya masing-masing.

Dengan di bersamai Kak Wawan inti dari yang telah kami bahas poin pertama, etnomatematika sebagai sumber belajar sendiri yang harus dikaitkan dengan konsep matematikanya. Sehingga etnomatematika dapat membantu mengembangkan kreatifitas peserta didik. Poin kedua, dalam etnomatematika, yang banyak dibicarakan mengenai bentuk fisik sedangkan yang bentuknya non fisik masih jarang dikaji sehingga lebih dekat ke pembelajaran geometri. Namun dapat juga diterapkan dalam bentuk pemodelan matematika dalam materi perbandingan senilai misalnya susunan pola dalam pakaian batik. Jadi, sebenarnya tergantung dari bagaimana kreatifitas guru sendiri dalam membelajarkannya. Poin ketiga, waktu yang tepat dalam membelajarkan etnomatematika yaitu dari tingkat bawah seperti sekolah dasar dan sekolah menengah pertama itu sangat cocok diterapkan pembelajaran etnomatematika. Poin keempat, dalam mengimplementasikan etnomatematika kita tidak bisa memaksakan budaya itu cocok untuk semua konsep matematika. Karena etnomatematika bermula dari kita tahu terlebih dahulu konsep matematikanya kemudian kita kaitkan dengan budaya yang ada. Sehingga budaya itu tidak bisa dipaksakan harus cocok dengan konsep matematikanya.

Kemudian hasil diskusi masing-masing kelompok dibahas secara bersama. Resume yang dapat diambil ialah untuk membelajarkan etnomatematika kepada siswa, dapat menggunakan miniatur dan lebih baik datang langsung ke lokasi yang menjadi objek budaya. Untuk mengaitkan budaya dengan matematika yaitu yang menjembatani adalah etomatematika, salah satunya bentuk artefak yang bergerak dan tidak bergerak, kaitannya dengan matematika yaitu matematika realistik. Dan etnomatematika berada di dalam matematika realistik itu sendiri. Misal objeknya yaitu susunan batu pada candi, kemudian pada kebudayaan ketoprak salah satunya topi yang digunakan oleh pemain dapat digunakan dalam materi kerucut terpancung. Kemudian ada juga penerapan konsep kesebangunan dari pakaian yang digunakan tokoh ketoprak. Sedemikian sehingga manfaat yang dapat kita peroleh dengan mempelajari etnomatematika yaitu dapat digunakan sebagai sumber motivasi, sumber belajar untuk mencapai tingkat matematika formal dan dapat meningkatkan kreatifitas guru dalam membelajarkan matematika di sekolah.

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA INOVATIF BERBASIS ETNOMATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY

Pembelajaran Matematika tidak jarang membuat peserta didik berinteraksi dengan angka dan simbol yang bersifat abstrak. Hal ini sering mengakibatkan peserta didik kesulitan dalam memahami matematika ditambah lagi dengan motivasi yang kurang dari peserta didik. Maka dari itu, perlu adanya inovasi dalam pembelajaran matematika yang membantu peserta didik dalam memahami matematika. Untuk mengatasi masalah di atas diperlukan suatu pembelajaran yang dapat membantu peserta didik lebih mudah memahami konsep matematika sehingga kemampuan koneksi matematika peserta didik lebih meningkat.

Salah satu perbaikan dalam proses pembelajaran khususnya dalam meningkatkan proses berpikir atau bernalar peserta didik, memecahkan masalah dan berargumen serta komunikasi, pembelajaran berbasis etnomatematika yaitu ilmu yang digunakan untuk memahami bagaimana adaptasi budaya menjadi matematika dapat menjadi solusi alternatif guna proses perbaikan pembelajaran. Jadi, etnomatematika berfungsi untuk mengekspresikan hubungan antara budaya dan matematika.

Etnomatematika adalah salah satu mata kuliah dengan beberapa materi pokok yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Marsigit, MA. untuk meningkatkan kompetensi Mahasiswa Pendidikan Matematika sebagai bekal menjadi calon guru. Tujuan pembelajarannya adalah untuk memfasilitasi Mahasiswa sehingga dapat mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis etnomatematika. Salah satu bentuk upaya memfasilitasi Mahasiswa, Prof. Dr. Marsigit, MA. memberikan tugas untuk melakukan observasi ke berbagai situs cagar budaya seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Keraton Yogyakarta maupun situs budaya yang ada di daerah masing-masing. Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur budaya yang dapat digunakan untuk membelajarkan matematika di Sekolah. Kemudian Mahasiswa diminta untuk membuat perangkat pembelajaran dari hasil observasi tersebut. Setelah itu, Mahasiswa melakukan praktek mengajar menggunakan perangkat pembelajaran yang sudah dibuat.

Selain memfasilitasi Mahasiswa untuk dapat mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis matematika, Prof. Dr. Marsigit, MA. juga memfasilitasi Mahasiswa utuk dapat membuka diri melihat proses pembelajaran di luar negeri melalui berbagai kegiatan lesson study. Selain itu, beliau juga memfasilitasi Mahasiswa untuk mengembangkan dimensi diri melalui artikel-artikel di dalam blog beliau yang sejalan dengan isu-isu dan permasalahan pendidikan matematika saat ini.Beberapa persepsi mahasiswa yang mengikuti kuliah Etnomatematika terhadap pengembangan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika, diantaranya : Mahasiswa merasa memperoleh pengetahuan baru tentang pembelajaran matematika, Mahasiswa merasa lebih mampu memfasilitasi belajar peserta didik yang mempunyai beraneka ragam, Mahasiswa merasa senang karena dapat mengembangkan pembelajaran matematika yang inovatif, Mahasiswa merasa lebih termotivasi untuk mengembangkan berbagai media pembelajaran. Akan tetapi, untuk mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika, memerlukan waktu yang lebih lama dan energi yang lebih banyak.

Berikut ini beberapa link terkait tulisan-tulisan Prof. Dr. Marsigit, MA.

https://uny.academia.edu/MarsigitHrd
https://powermathematics.blogspot.co.id/
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-marsigit-ma

 

REFLEKSI BUDAYA

Oleh Tri Wahyu Nurjanah

NIM. 15301241010

Pendidikan Matematika A 2015

KESENIAN KETOPRAK, MEDIA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan juga sebagai usaha masyarakat dan bangsa untuk mempersiapkan generasi muda dalam menata keberlangsungan hidup yang lebih baik di masa depan. Hal tersebut ditandai dengan adanya pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki suatu bangsa. Karakter sebagai nilai dari perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dimana terwujud dalam sikap, pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan yang di dasarkan pada agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Maka dari itu kita mengerti bahwa pendidikan karakter merupakan usaha sadar manusia dalam mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga memiliki nilai dan karakter yang dapat diterapkan dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasional, produktif, dan kreatif.

Esensi pendidikan karakter sendiri ialah bagaimana mengetahui yang baik (knowing the good), mencintai yang baik (loving the good), dan melakukan yang baik (acting the good), sehingga manusia tidak hanya mampu mengetahui saja tanpa mencintai dan melaksanakannya. Selama ini pendidikan karakter baru diterapkan dalam pembelajaran Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Padahal pendidikan karakter ada dalam setiap proses pembelajaran semua mata pelajaran, salah satunya adalah dalam pembelajaran matematika.

Matematika walopun sudah menjadi perbincangan sebagai matapelajaran yang sulit dan tidak disenangi, namun menurut Roza, dkk (2010) matematika yang diajarkan dengan strategi pembelajaran matematika realistik dengan konteks lokal telah berhasil mengubah matapelajaran matematika menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Penggunaan strategi pembelajaran matematika realistik digunakan sesuai dengan pendapat Piaget bahwa usia siswa sekolah dasar (7 – 12 tahun) merupakan masa operasional konkret, dimana pada masa ini siswa belajar dengan menggunakan hal-hal yang kongkret. Hal tersebut sesuai dengan azas pembelajaran matematika realistik Indonesia yang menyatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan aktivitas manusia sehari-hari.

Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Soekarno intinya dalam memahami karakter dari anak Indonesia, pijakannya adalah kebudayaan yang melandasi terbentuknya karakter. Kebudayaan sendiri merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dapat dijadikan untuk belajar. Budaya dijadikan sebagai aset terbesar bangsa selain kekayaan lain yang sifatnya material dan juga sebagai kesenian yang menggambarkan identitas bangsa. Salah satu yang menjadi budaya Indonesia adalah budaya Ketoprak.

Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Ketoprak yang berkembang di Yogyakarta dikenal sebagai ketoprak mataraman yang mempunyai struktur adegan baku, yaitu adegan kraton, kadipaten, taman, kesatrian, padepokan, pedesaan, dan alun-alun. Ketoprak mataraman tersebut salah satunya dipentaskan oleh UNY pada tanggal 9 Mei 2018 dalam rangka dies UNY ke-54 dengan lakon “Rembulan Kekalang”. Dalam pertunjukannya menyiratkan sebuah pesan bahwa tindak angkara murka terkalahkan oleh tindak kebajikan. Dari pementasan tersebut kita tahu bahwa fungsinya dari kebudayaan ketoprak diantaranya sebagai sarana penghibur, sarana pendidikan, sarana dalam upacara adat atau ritual dan lainnya. Budaya ketoprak juga dapat digunakan sebagai media pengembangan pendidikan karakter agar generasi muda dapat mengenal sopan santun dan tata krama. Melalui budaya ketoprak yang dipentaskan oleh UNY sebagai budaya tradisional Jawa diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat, utamanya generasi muda dan anak-anak agar lebih menghargai nilai-nilai seni daerah.

Ketoprak sebagai bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa tetapi harus diperhatikan masalah unggah-ungguh bahasa. Beberapa ragam bahasa dalam ketoprak menunjukkan watak kedudukan, trah keturunan, latar belakang dan status sosial tokoh-tokoh yang tampil dalam setiap adegan. Seperti ragam bahasa yang digunakan oleh Tumenggung Pasingsingan kepada Pangeran Sepuh Purboyo. Dari ragam bahasa yang digunakan oleh Tumenggung Pasingsingan kepada tuannya terselip pendidikan karakter yaitu agar generasi muda dapat mengenal sopan santun dan tata krama.

Bahasa selain sebagai alat ekspresi dan komunikasi, juga sebagai simbol eksistensi orang Jawa yang mengarah pada cita-cita orang Jawa yaitu manunggaling kawula gusti, yang merefleksikan saling ketergantungan melalui pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi. Namun demikian, Unsur bahasa hanya sebagai keadiluhungan kesenian ketoprak, sebab unsur busana (kostum) juga mengandung ajaran watak dan kedudukan seseorang. Seperti dalam lakon “Rembulan Kekalang” busana yang dikenakan oleh Rara Mangli, berbeda dengan busana yang dikenakan oleh Yu Genuk selaku batur, begitu juga busana yang dikenakan oleh Pangeran Sepuh Purboyo berbeda dengan busana yang dikenakan oleh patihnya. Bahasa yang digunakan menggunakan bahasa jawa dengan empat ragam yaitu krama inggil, krama ndesa, ngoko kedhaton dan bagongan sesuai dengan siapa yang menjadi lawan bicara. Sementara untuk sistem komunikasi dilakukan dengan dialog dan tembang.

Ketoprak digunakan sebagai wahana pendidikan karakter yang bertujuan untuk mengembalikan ruh budaya jawa diantara generasi muda yang saat ini dinilai makin pudar. Mereka yang cenderung tidak mengenal sopan santun karena terlalu sering menggemari budaya yang praktis dan instan sehingga ketoprak perlu dikenalkan kepada mereka untuk membekali karakter seperti tata krama, sopan santun, dan menghomati orang yang lebih tua. Oleh sebab itu, budaya ketoprak mempunyai peranan penting dalam pengembangan pendidikan karakter yaitu dilihat dari dialog-dialog (bahasa) yang digunakan dalam pementasan dan dilihat dari cerita yang ada dalam pementasan ketoprak tersebut.

Pengembangan pendidikan karakter membutuhkan teknologi tradisional yang mampu menyerap generasi muda yang ramah lingkungan, memiliki keseimangan alam, memuat pembelajaran kesopanan, dan sarat nilai-nilai luhur. Sehingga, kandungan kearifan lokal yang terdapat dalam budaya ketoprak dapat bermakna positif dan berperan dalam membentuk karakter siswa yang bermoral dan berbudaya tinggi, khususnya dalam pembelajaran matematika. Sehingga dari pola sikap, pola tutur, dan pola tingkah laku para tokoh ketoprak bisa menjadi teladan untuk mengembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika misalnya sikap jujur, tekun, percaya diri, pantang menyerah, bertanggung jawab, dan teguh dalam pendirian yang semuanya itu terlihat dari cerita yang ada dalam pementasan ketoprak, khususnya pementasan ketoprak dengan lakon “Rembulan Kekalang” yang telah dipentaskan oleh UNY. Sehingga nantinya pemahaman akan pembelajaran matematika yang sulit menjadi pandangan yang keliru, pandangan yang benar yaitu matematika adalah suatu ilmu yang membantu membentuk karakter kepribadian yang baik.

Sumber :

  1. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=429737&val=5562&title=PENGEMBANGAN%20PENDIDIKAN%20KARAKTER%20MELALUI%20%20BUDAYA%20JAWA%20(KETOPRAK). Diakses 18 Mei 2018
  2. http://najiamabrura.blogspot.co.id/2013/01/budaya-jawa-sebagai-sumber-pendidikan.html. Diakses 18 Mei 2018
  3. http://rumahliterasiindonesia.org. Diakses 18 Mei 2018
  4. https://www.academia.edu/8183803/ANALISIS_PEMIKIRAN_MATEMATIKA_PADA_PERMAINAN_DAN_TRADISI_RAKYAT_DAERAH_RIAU_UNTUK_PENGEMBANGAN_PENDIDIKAN_KARAKTER_DALAM_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA_REALISTIK. Diakses 19 Mei 2018

 

SEPUTAR MAHASISWA BARU

Assalamu’alaikum sahabat, salam hangat untuk kita semua. Perkenalkan saya Tri Wahyu ,mahasiswa baru Universitas Negeri Yogyakarta dari prodi Pendidikan Matematika. Saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman menjadi mahasiswa baru.Ya, Mahasiswa yang dengan segudang pengalaman luar biasanya. Pengalaman yang jarang orang-orang biasa dapat mengalaminya.Mahasiswa yang dibanggakan untuk menjadi agen perubahan bangsa. Mahasiswa yang menjadi tingkat tertinggi bagi para pelajar, yang sekarang menggantikan seragam putih abu-abu kita menjadi jas biru tua bertuliskan Universitas Negeri Yogyakarta. Jas yang sekarang menjadi kebanggaan kita semua.Dari sinilah awal kita diperkenalkan dan dipertemukan menjadi satu keluarga yaitu keluarga kampus biru tercinta.

Semuanya berawal dari penerimaan mahasiswa baru 2015. Kita dipertemukan dalam acara yang bernama orientasi perkenalan kampus mahasiswa atau yang sering kita dengar dengan nama OSPEK. Acara yang hanya berlangsung lima hari namun membekas di hati dan menjadi pengalaman yang paling berarti untuk lebih mengenal kampus kita sendiri. Bercerita tentang orientasi, di kampus biru dibagi menjadi dua agenda yaitu ospek universitas dan ospek fakultas.

Pengalaman yang paling luar biasaya itu saat ospek universitas.Disana kita bisa langsung bertemu dengan teman-teman mahasiswa baru dari bermacam-macam fakultas. Dan yang lebih pastinya, kita bisa melihat secara langsung figur orang-orang hebat dan berkompeten disana. Di ospek fakultas pun tidak kalah menariknya, disini kita dapat lebih mengenal tentang fakultas kita masing-masing. Banyak alumni dan aktivis-aktivis yang berbagi pengalamannya dan memberikan tips dan saran untuk menjadi mahasiswa baru yang bukan menjadi maba kupu-kupu, tetapi menjadi maba yang pintar dalam managemen waktu.

Dalam perjalanan menjadi mahasiswa baru di UniversitasNegeri Yogyakarta, kita ada semacam pelatihan yang bernama ICT, pengenalan perpustakaan, dan wawasan SIAKAD (Sistem Informasi Akademik). Disini kita diwajibkan memiliki akun dan mampu menggunakan serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran.

Dalam pelatihan ICT kita akan diajari bagaimana cara membuat email student, blog uny, dan pembelajaran tentang tata cara ujian online. Banyak pengalaman yang dapat kita peroleh disini asalkan kita benar-benar memperhatikan materi dan teorinya dari awal. Semoga untuk ICT tahun depan berjalan dengan lancar dan semoga pelatihan ICT ini dapat bermanfaat bagi kami mahasiswa baru Universitas Negeri Yogyakarta.

 

PENGALAMAN MENJADI MAHASISWA BARU

Aku dengan segudang pengalaman baruku ketika awal baju putih abu-abu tergantikan jas biru bertuliskan Universitas Negeri Yogyakarta. Dengan jabatan baruku yang awalnya siswa, sekarang menjadi mahasiswa.Ya, kini semakin berat amanah yang harus diemban dalam pundakku. Terselip kebanggaan didalam diriku. Ya, bangga karena tidak semua bisa menjadi sepertiku. Menyandang status mahasiwa yang akan menjadi agen of change. Mahasiswa yang akan menjadi pendobrak semangat dan perubahan bagi bangsa tercinta ini.

Sekelumit pengalaman aku torehkan dalam sebuah cerita. Berawal dari Orientasi mahasiswa,tepatnya tanggal 24 Agustus 2015. Dari sinilah baju putih abu-abu berganti menjadi jas biru. Dari yang awalnya sekolah berganti menjadi kampus. Kampus kebanggaanku Universitas Negeri Yogyakarta.