Monthly Archives: June 2018

REFLEKSI PERKULIAHAN ETNOMATEMATIKA (SEMESTER 6)

Oleh Tri Wahyu Nurjanah

NIM. 15301241010

Pendidikan Matematika A 2015

Pada semester enam, saya mengikuti sembilan mata kuliah. Salah satu mata kuliah yang wajib saya tempuh dengan bobot 2 sks yaitu etnomatematika. Awalnya saya hanya sekedar mengetahui bahwa belajar etnomatematika itu belajar matematika yang objeknya adalah budaya. Budaya yang menjadi objek tersebut merupakan budaya yang ada pada kehidupan dan keseharian masyarakat. Akan tetapi, bagaimana kita mampu menghubungkan matematika tersebut dengan budaya? Sedangkan keduanya merupakan dua hal dengan dimensi yang berbeda. Matematika itu sesuatu yang abstrak, sedangkan budaya sesuatu yang lekat dengan kehidupan nyata. Pastinya jika kita tidak mempelajarinya dengan baik akan sulit untuk menafsirkannya.

Sebagai gambarannya, matematika murni bersifat abstrak, tidak terbatas, dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Agar dapat dipelajari, khususnya oleh subjek belajar yaitu peserta didik, perlu adanya perantara agar dalam pembelajarannya konsep mudah untuk dipahami. Dengan tertumpu pada indikator keberhasilan subjek belajar dalam memahami suatu ilmu yaitu jika mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, matematika diharapkan dapat diwujudkan dalam pembelajaran yang kontekstual dimana etnomatematika menjadi salah satu yang memfasilitasinya. Sehingga, etnomatematika menjadi salah satu alternatif yang mampu menjembatani dalam membelajarkan matematika.

Selama perkuliahan, dengan di bimbing oleh Prof. Dr. Marsigit, MA. sebagai pakarnya pendidikan matematika dan filsafat. Beliau membuka wawasan murid-muridnya tentang masalah yang berkaitan dengan dunia pendidikan, memberikan kesadaran tentang peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dan mengarahkannya untuk mampu menghayati permasalahan terutama saat pekuliahan sehingga nantinya kita benar-benar mampu melihat, mendalami, dan menghayati budaya yang ada agar dapat menggali konsep matematika yang ada dalam kebudayaan tersebut. Beliau membimbing dan mengajarkan kami untuk memahami etnomatematika dengan gagasan dan ide yang inovatif. Diantaranya beliau memfasilitasi kami untuk belajar melalui dialog secara melingkar, diskusi online, melalui blog interaktif yang beliau tulis yang dapat dengan mudah diakses di www.powermathematics.blogspot.co.id.

Dalam pemberian tugas, beliau juga memberikannya tidak secara monoton. Mahasiswa dimita terlibat secara aktif di dalam forum yang ada pada blog yang beliau tulis di www.powermathematics.blogspot.co.id. Ada sekitar 600 postingan dengan berbagai macam topik dan tema, baik yang bidangnya pendidikan maupun yang bidangnya filsafat. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk berkomentar mengenai isi dari blog yang sudah Beliau tulis tersebut. Beliau terkenal dengan dosen yang tidak pelit ilmu, hal tersebut terbukti dari bagaimana beliau memfasilitasi murid-muridnya untuk belajar. Selain dari blog yang beliau tulis, karya-karya beliau juga dapat dengan mudah diakses melalui http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-marsigit-ma dan https://uny.academia.edu/MarsigitHrd.

Selain terlibat aktif dalam forum blog, Beliau memberikan tugas untuk melakukan observasi ke berbagai situs cagar budaya seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Keraton Yogyakarta maupun situs budaya yang ada di daerah masing-masing. Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur budaya yang dapat digunakan untuk membelajarkan matematika di Sekolah. Kemudian Dari hasil observasi, Mahasiswa diminta untuk membuat perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS berbasis etnomatematika dengan sintak dan materi yang berbeda masing-masing Mahasiswa. Setelah itu, Mahasiswa melakukan praktek mengajar menggunakan perangkat pembelajaran yang sudah dibuat. Saya mendapatkan banyak sekali wawasan baru dari membaca blog yang ditulis oleh Prof. Marsigit. Gagasan-gagasan kritis yang beliau tuangkan dalam tulisannya tersebut membawa pembaca pada sudut pandang baru mengenai pendidikan, ilmu, matematika, maupun filsafat.

Sebelum melakukan studi kasus untuk observasi ke lapangan sesui dengan kelompok masing-masing, kami diberi pembekalan terlebih dahulu oleh Prof. Marsigit, dengan dibersamai oleh mahasiswa S3 yang sedang melakukan penelitian dengan objek sama yang di ketuai oleh Ibu Meita dari Dosen UAD. Setelah penjelasan secara keseluruhan oleh Prof. Marsigit, kemudian penjelasan dari masingmasing kelompok dibersamai oleh Pak Fadlee untuk kelompok Candi Borobudur, Pak Eka untuk kelompok Candi Prambanan, dan Ibu Luluk Mauluah untuk kelompok Keraton Yogyakarta. Harapannya dapat saling berbagi dan lebih siap saat terjun ke lapangan karena sudah dibekali pengetahuan dan pegalaman sehingga saat observasi kami paham objek mana saja yang akan di observasi dan diidentifikasikan unsur-unsur budayanya yang dapat digunakan untuk membelajarkan matematika di Sekolah.

Setelah diperoleh data hasil observasi, hal yang kemudian saya lakukan adalah menyusun perangkat pembelajaran diantaranya RPP dan LKS berdasarkan objek-objek yang sudah diperoleh. Saya mendapat materi geometri untuk kelas IX dengan materi pokoknya translasi. Karena saya masuk ke dalam kelompok Candi Prambanan, Saya memanfaatkan Stupa Candi Brubah dan stupa candi Siwa untuk merancang permasalahan sebagai materi diskusi siswa. Walaupun saya terbiasa dalam merancang perangkat pembelajaran, namun sering kali saya mengalami kesulitan dalam hal menentukan sintak pembelajaran yang cocok dengan materi yang saya akan ajarkan.

Kesulitan yang saya alami, dapat terpecahkan ketika Prof memberikan evaluasi mengenai cara mengembangkan RPP dan LKS yang baik. Prof juga memberikan kami macam-macam sintak pembelajaran yang dapat digunakan dan diterapkan dalam membuat RPP dan LKS yang berbasis etnomatematika. Prof juga memberikan penekanan bahwa untuk menyusun LKS, sintaksnya di sesuaikan dengan sintaks yang digunakan pada RPP.

Simulasi pembelajaran diadakan sebanyak tiga kali, dan tanpa unsur kesengajaan setiap mahasiswa yang ditunjuk dan mendapat giliran maju adalah mahasiswa yang mewakili dari masing-masing kelompok (Prambanan, Keraton, dan Borobudur). Dari simulasi pembelajaran berbasis etnomatematika tersebut, saya belajar kembali mengenai bagaimana cara guru melakukan apersepsi dengan baik, bagaimana batasan apersepsi yang seharusnya, bagaimana cara yang baik untuk mengontrol kelas, menjadi guru yang adil, menyusun dan mengatur tempat duduk siswa saat berdiskusi agar berdiskusi mampu berjalan lancar, dan masih banyak lagi yang lain. Yang pada intinya Prof mengajarkan kami untuk menjadi guru yang mampu inovatif dan tidak biasa-biasa saja, guru yang selalu ditunggu kedatangannya oleh murid-muridnya, guru yang mampu kreatif sehingga mampu membuat matematika menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa agar hasil belajar yang diperoleh dapat optimal.