REFLEKSI BUDAYA

Oleh Tri Wahyu Nurjanah

NIM. 15301241010

Pendidikan Matematika A 2015

KESENIAN KETOPRAK, MEDIA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan juga sebagai usaha masyarakat dan bangsa untuk mempersiapkan generasi muda dalam menata keberlangsungan hidup yang lebih baik di masa depan. Hal tersebut ditandai dengan adanya pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki suatu bangsa. Karakter sebagai nilai dari perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dimana terwujud dalam sikap, pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan yang di dasarkan pada agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Maka dari itu kita mengerti bahwa pendidikan karakter merupakan usaha sadar manusia dalam mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga memiliki nilai dan karakter yang dapat diterapkan dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasional, produktif, dan kreatif.

Esensi pendidikan karakter sendiri ialah bagaimana mengetahui yang baik (knowing the good), mencintai yang baik (loving the good), dan melakukan yang baik (acting the good), sehingga manusia tidak hanya mampu mengetahui saja tanpa mencintai dan melaksanakannya. Selama ini pendidikan karakter baru diterapkan dalam pembelajaran Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Padahal pendidikan karakter ada dalam setiap proses pembelajaran semua mata pelajaran, salah satunya adalah dalam pembelajaran matematika.

Matematika walopun sudah menjadi perbincangan sebagai matapelajaran yang sulit dan tidak disenangi, namun menurut Roza, dkk (2010) matematika yang diajarkan dengan strategi pembelajaran matematika realistik dengan konteks lokal telah berhasil mengubah matapelajaran matematika menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Penggunaan strategi pembelajaran matematika realistik digunakan sesuai dengan pendapat Piaget bahwa usia siswa sekolah dasar (7 – 12 tahun) merupakan masa operasional konkret, dimana pada masa ini siswa belajar dengan menggunakan hal-hal yang kongkret. Hal tersebut sesuai dengan azas pembelajaran matematika realistik Indonesia yang menyatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan aktivitas manusia sehari-hari.

Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Soekarno intinya dalam memahami karakter dari anak Indonesia, pijakannya adalah kebudayaan yang melandasi terbentuknya karakter. Kebudayaan sendiri merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dapat dijadikan untuk belajar. Budaya dijadikan sebagai aset terbesar bangsa selain kekayaan lain yang sifatnya material dan juga sebagai kesenian yang menggambarkan identitas bangsa. Salah satu yang menjadi budaya Indonesia adalah budaya Ketoprak.

Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Ketoprak yang berkembang di Yogyakarta dikenal sebagai ketoprak mataraman yang mempunyai struktur adegan baku, yaitu adegan kraton, kadipaten, taman, kesatrian, padepokan, pedesaan, dan alun-alun. Ketoprak mataraman tersebut salah satunya dipentaskan oleh UNY pada tanggal 9 Mei 2018 dalam rangka dies UNY ke-54 dengan lakon “Rembulan Kekalang”. Dalam pertunjukannya menyiratkan sebuah pesan bahwa tindak angkara murka terkalahkan oleh tindak kebajikan. Dari pementasan tersebut kita tahu bahwa fungsinya dari kebudayaan ketoprak diantaranya sebagai sarana penghibur, sarana pendidikan, sarana dalam upacara adat atau ritual dan lainnya. Budaya ketoprak juga dapat digunakan sebagai media pengembangan pendidikan karakter agar generasi muda dapat mengenal sopan santun dan tata krama. Melalui budaya ketoprak yang dipentaskan oleh UNY sebagai budaya tradisional Jawa diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat, utamanya generasi muda dan anak-anak agar lebih menghargai nilai-nilai seni daerah.

Ketoprak sebagai bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa tetapi harus diperhatikan masalah unggah-ungguh bahasa. Beberapa ragam bahasa dalam ketoprak menunjukkan watak kedudukan, trah keturunan, latar belakang dan status sosial tokoh-tokoh yang tampil dalam setiap adegan. Seperti ragam bahasa yang digunakan oleh Tumenggung Pasingsingan kepada Pangeran Sepuh Purboyo. Dari ragam bahasa yang digunakan oleh Tumenggung Pasingsingan kepada tuannya terselip pendidikan karakter yaitu agar generasi muda dapat mengenal sopan santun dan tata krama.

Bahasa selain sebagai alat ekspresi dan komunikasi, juga sebagai simbol eksistensi orang Jawa yang mengarah pada cita-cita orang Jawa yaitu manunggaling kawula gusti, yang merefleksikan saling ketergantungan melalui pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi. Namun demikian, Unsur bahasa hanya sebagai keadiluhungan kesenian ketoprak, sebab unsur busana (kostum) juga mengandung ajaran watak dan kedudukan seseorang. Seperti dalam lakon “Rembulan Kekalang” busana yang dikenakan oleh Rara Mangli, berbeda dengan busana yang dikenakan oleh Yu Genuk selaku batur, begitu juga busana yang dikenakan oleh Pangeran Sepuh Purboyo berbeda dengan busana yang dikenakan oleh patihnya. Bahasa yang digunakan menggunakan bahasa jawa dengan empat ragam yaitu krama inggil, krama ndesa, ngoko kedhaton dan bagongan sesuai dengan siapa yang menjadi lawan bicara. Sementara untuk sistem komunikasi dilakukan dengan dialog dan tembang.

Ketoprak digunakan sebagai wahana pendidikan karakter yang bertujuan untuk mengembalikan ruh budaya jawa diantara generasi muda yang saat ini dinilai makin pudar. Mereka yang cenderung tidak mengenal sopan santun karena terlalu sering menggemari budaya yang praktis dan instan sehingga ketoprak perlu dikenalkan kepada mereka untuk membekali karakter seperti tata krama, sopan santun, dan menghomati orang yang lebih tua. Oleh sebab itu, budaya ketoprak mempunyai peranan penting dalam pengembangan pendidikan karakter yaitu dilihat dari dialog-dialog (bahasa) yang digunakan dalam pementasan dan dilihat dari cerita yang ada dalam pementasan ketoprak tersebut.

Pengembangan pendidikan karakter membutuhkan teknologi tradisional yang mampu menyerap generasi muda yang ramah lingkungan, memiliki keseimangan alam, memuat pembelajaran kesopanan, dan sarat nilai-nilai luhur. Sehingga, kandungan kearifan lokal yang terdapat dalam budaya ketoprak dapat bermakna positif dan berperan dalam membentuk karakter siswa yang bermoral dan berbudaya tinggi, khususnya dalam pembelajaran matematika. Sehingga dari pola sikap, pola tutur, dan pola tingkah laku para tokoh ketoprak bisa menjadi teladan untuk mengembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika misalnya sikap jujur, tekun, percaya diri, pantang menyerah, bertanggung jawab, dan teguh dalam pendirian yang semuanya itu terlihat dari cerita yang ada dalam pementasan ketoprak, khususnya pementasan ketoprak dengan lakon “Rembulan Kekalang” yang telah dipentaskan oleh UNY. Sehingga nantinya pemahaman akan pembelajaran matematika yang sulit menjadi pandangan yang keliru, pandangan yang benar yaitu matematika adalah suatu ilmu yang membantu membentuk karakter kepribadian yang baik.

Sumber :

  1. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=429737&val=5562&title=PENGEMBANGAN%20PENDIDIKAN%20KARAKTER%20MELALUI%20%20BUDAYA%20JAWA%20(KETOPRAK). Diakses 18 Mei 2018
  2. http://najiamabrura.blogspot.co.id/2013/01/budaya-jawa-sebagai-sumber-pendidikan.html. Diakses 18 Mei 2018
  3. http://rumahliterasiindonesia.org. Diakses 18 Mei 2018
  4. https://www.academia.edu/8183803/ANALISIS_PEMIKIRAN_MATEMATIKA_PADA_PERMAINAN_DAN_TRADISI_RAKYAT_DAERAH_RIAU_UNTUK_PENGEMBANGAN_PENDIDIKAN_KARAKTER_DALAM_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA_REALISTIK. Diakses 19 Mei 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

41 − 40 =